“Matcha habis, by.” ucapnya.
“Oke,
aku mau coba choco mint.”
Dia
menatapku, lalu mengatakan, “Choco mint juga habis, tinggal satu ini aja punya aku, kamu mau? kalau mau ambil aja, aku pesen yang vanila."
“Nggak usah pesen lagi, aku cuma minta choco mint dikit aja.”
Malam itu, pertama kali dalam hidupku, aku menikmati satu ice cream rasa choco
mint dengan laki-laki. Rasanya sedikit aneh, bukan rasa ice creamnya, melainkan
rasa dalam diriku. Beberapa kali aku tersenyum, menggigit bibir bawahku.
Sebuah
perasaan yang akan aku ingat sampai akhir. Aku tidak mau menduga akhir dari
kisah antara aku dengan dia. Jika akhirnya memang tidak bersama, aku masih
memiliki sisa-sisa kenangan waktu dengan dia. Pada akhirnya, kisahnya akan aku
tutup jika aku sudah siap. Kunci pintu rumah akan aku kembalikan kepada dia, karena
dia bukan lagi milikku.
Ini adalah kali kedua aku memiliki pacar setelah 6 tahun sendiri. Dia bukan laki-laki idamanku yang sering aku bicarakan dengan teman-temanku. Tetapi entah kenapa dia berhasil mengusik pikiranku setelah beberapa waktu yang lalu kita satu kelompok. Setelah tugas selesai kita berdua biasa aja, aku dengan dia bahkan jarang bicara. Dia lebih banyak bicara dengan temanku, dan kita hanya bicara seperlunya saja.
Cerita singkatnya bagaimana kita berdua bisa bertemu, kita waktu itu